IMAN KEPADA MALAIKAT

Posted: Januari 8, 2011 in AQIDAH

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Ahlus Sunnah mengimani adanya Malaikat yang ditugaskan Allah di dunia dan di akhirat. Malaikat adalah alam ghaib, makhluk, dan hamba Allah Azza wa Jalla. Malaikat sama sekali tidak memiliki keistimewaan Rububiyyah dan Uluhiyyah. Allah menciptakannya dari cahaya serta memberikan ketaatan yang sempurna serta kekuatan untuk melaksanakan ketaatan itu.

Dalil bahwa Malaikat diciptakan dari cahaya adalah hadits dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari api yang menyala-nyala, dan Adam diciptakan Alaihissalam dari apa yang telah disifatkan kepada kalian.” [1]

Malaikat adalah makhluk Allah yang besar seperti disebutkan dalam ayat-ayat Al-Qur-an dan hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih, seperti sifat para Malaikat yang memikul ‘Arsy.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api Neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya Malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” [At-Tahrim : 6]

Malaikat tidak membutuhkan makan dan minum, seperti kisah Nabi Ibrahim Alaihissalam dengan tamu-tamu Malaikatnya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tamu Ibrahim (Malaikat-malaikat) yang dimuliakan. (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan: ‘Salaman,’ Ibrahim menjawab: ‘Salamun,’ (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal. Maka dia pergi dengan diam-diam menemui keluarga-nya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk (yang di-bakar), lalu dihidangkannya kepada mereka. Ibrahim berkata: ‘Silahkan kamu makan.’ Tetapi mereka tidak mau makan karena itu Ibrahim merasa takut kepada mereka. Mereka ber-kata: ‘Janganlah kamu takut.’ Dan mereka memberi kabar gembira kepadanya (dengan) kelahiran seorang anak yang ‘alim (Ishaq).” [Adz-Dzaariyaat: 24-28]

Juga dalam ayat yang lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Maka tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya, Ibrahim memandang aneh perbuatan mereka, dan merasa takut kepada mereka. Malaikat itu berkata: ‘Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah (Malaikat-malaikat) yang diutus kepada kaum Luth.’” [ Huud: 70]

Tentang ketaatan Malaikat, Allah Azza wa Jalla berfirman:

“Dan Malaikat yang ada di sisi-Nya, mereka tidak angkuh untuk beribadah kepada-Nya dan tidak (pula) merasa letih. Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya.” [Al-Anbiyaa: 19-20]

Malaikat berjumlah sangat banyak, dan tidak ada yang dapat menghitungnya kecuali Allah.

Dalam hadits al-Bukhari dan Muslim yang diriwayatkan dari Malik bin Sha’sha’ah Radhiyallahu ‘anhu, tentang kisah Mi’raj Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa Allah telah memperlihatkan al-Baitul Ma’mur di langit kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tempat itu setiap hari didatangi oleh 70.000 Malaikat untuk mengerjakan shalat di sana. Setiap kali mereka keluar dari tempat itu, mereka tidak kembali lagi. [2]

Iman kepada Malaikat mengandung empat unsur:

1). Mengimani wujud mereka.

2). Mengimani nama-nama Malaikat yang kita kenali, seperti Jibril, Mika-il, Israfil dan juga nama-nama Malaikat lainnya yang sudah diketahui.

3). Mengimani sifat-sifat mereka yang kita kenali, seperti sifat bentuk Jibril, sebagaimana yang pernah dilihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mempunyai 600 sayap yang menutup ufuk. [3] Setiap Malaikat mempunyai sayap sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla.

“Segala puji bagi Allah, Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan Malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha-kuasa atas segala sesuatu.” [Faathir: 1]

Malaikat bisa saja menjelma menjadi seorang laki-laki, seperti yang pernah terjadi pada Malaikat Jibril ketika diutus oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menjumpai Maryam. Jibril menjelma menjadi seorang manusia yang sempurna.

4). Mengimani tugas-tugas yang diperintahkan Allah kepada mereka yang sudah kita ketahui, seperti membaca tasbih dan beribadah kepada Allah Azza wa Jalla siang malam tanpa merasa lelah. [4]

Dan di antara mereka ada yang mempunyai tugas-tugas tertentu, misalnya:

1). Malaikat Jibril yang dipercayakan menyampaikan wahyu Allah kepada para Nabi dan Rasul.

2). Malaikat Mika-il yang diserahi tugas menurunkan hujan dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan.

3). Malaikat Israfil yang diserahi tugas meniup Sangkakala di hari Kiamat dan di hari kebangkitan makhluk.

4). Malaikat Maut yang diserahi tugas mencabut nyawa seseorang.

5). Malaikat yang diserahi tugas menjaga Surga dan Neraka.

6). Malaikat yang ditugaskan meniupkan ruh pada janin dalam rahim, yaitu ketika janin telah mencapai usia 4 bulan di dalam rahim, maka Allah Azza wa Jalla mengutus Malaikat untuk menuliskan rizki, ajal, amal, celaka dan bahagianya, lalu meniupkan ruh padanya. [5]

7). Para Malaikat yang diserahi menjaga dan menulis semua perbuatan manusia. Setiap orang yang dijaga oleh dua Malaikat, yang satu pada sisi kanan dan yang satunya lagi pada sisi kiri.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“(Yaitu) ketika dua orang Malaikat mencatat amal perbuataNnya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya Malaikat pengawas yang selalu hadir.” [Qaaf: 17-18]

8). Para Malaikat yang diserahi tugas menanyai mayit, yaitu apabila mayit telah dimasukkan ke dalam kuburnya, maka akan datanglah dua Malaikat yang bertanya kepadanya tentang Rabb-nya, agamanya dan Nabinya. [6]

orang-orang yang beriman ketika ditanya di kubur, maka mereka akan menjawab dan Alloh akan meneguhkan hati mereka.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh (dalam kehidupan) di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatakan orang-orang yang zhalim dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.” [Ibrahim: 27]

_________
Footnotes
[1]. HR. Ahmad (VI/153) dan Muslim (no. 2996 (60)).
[2]. HR. Al-Bukhari (no. 3207, 3887), Muslim (no. 164) dan Ahmad (IV/207-208), dari Sahabat Malik bin Sha’sha’ah Radhiyallahu ‘anhu
[3]. HR. Ahmad (I/460), sanadnya shahih. Lihat ‘Aalamul Malaa-ikah oleh Dr. ‘Umar Sulaiman al-Asyqar, cet. Darun Nafa-is, th. 1412 H.
[4]. Lihat QS. Al-Anbiyaa’: 19-20, ash-Shaaffat: 165-166, al-Mu’min: 7, dan asy-Syuura: 5.
[5]. HR. Al-Bukhari (no. 3208, 3332, 6594) dan Muslim (no. 2643), dari Sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu
[6]. Lihat Syarah Ushuulil Iimaan (hal. 27-31) oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin. Pembahasan lengkap tentang Malaikat dapat dilihat dalam kitab ‘Aalamul Malaa-ikah, oleh Dr. ‘Umar Sulaiman al-Asyqar, cet. Darun Nafa-is, th. 1412 H.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s